Kerusakan Otak Akibat Pornografi - Musibah besar terjadi di Sumatera Selatan. Seorang remaja putri berusia 13 tahun dirudapaksa dan dibunuh 4 orang remaja putra. Dua pelaku termuda berusia 12 tahun. Hal ini menimbulkan beragam reaksi dari warganet Indonesia. Salah satunya, munculnya perbincangan atau talkshow di media elektronik, dengan topik hubungan antara pornografi dan kasus kekerasan seksual.
Bersamaan dengan itu, muncul
kerusuhan di kalangan netizen akibat terkuaknya kelakukan pemilik akun
Kaskus Fufufafa dikaitkan dengan pornografi dan kepemimpinan negara. Diskusi
tentang ini juga bisa disimak salah satunya di kanal YouTube Diskursus.net.
Well, tidak usah membahas dengan detail kasus-kasus di atas karena sudah banyak yang bahas, mari kita tilik penelitian-penelitian terkait pornografi dan kerusakan otak. Yang jelas, kedua kasus di atsa menjadi peyebab diangkatnya topik ini.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa
konsumsi pornografi dapat berdampak negatif pada otak. Penelitian ini menemukan
bahwa paparan pornografi yang terus-menerus dapat mengubah struktur dan fungsi
otak, khususnya di area yang terkait dengan motivasi dan pengambilan keputusan.
Beberapa efek yang dilaporkan termasuk penurunan volume materi abu-abu di otak
dan perubahan dalam aktivitas otak yang terkait dengan kebiasaan dan respons
terhadap rangsangan seksual.
Berikut adalah beberapa jurnal yang
menjelaskan hubungan antara konsumsi pornografi dan kerusakan otak, beserta
pemaparan hasil penelitian dalam jurnal tersebut:
1. Jurnal
"Addictive Behaviors Reports" (2021):
- Penelitian berjudul "Cognitive Processes Related to Problematic Pornography Use (PPU): A Systematic Review of Experimental Studies" melakukan tinjauan terhadap 21 studi eksperimental dari 6 negara yang menunjukkan bahwa konsumsi pornografi bermasalah (PPU) berdampak negatif pada fungsi otak, terutama dalam hal bias atensi, kontrol inhibisi, memori kerja, dan pengambilan keputusan.
- Individu dengan PPU memiliki perhatian yang lebih besar terhadap rangsangan seksual, kurang memiliki kontrol diri, menunjukkan memori kerja yang lebih buruk, dan membuat keputusan yang lebih impulsif. Hal ini menyerupai pola kerusakan kognitif yang sering ditemukan pada kecanduan substansi [1].
2. Jurnal "JAMA
Psychiatry" (2014):
- Studi oleh Simone Kühn dan Jürgen Gallinat, berjudul "Structural Correlates and Functional Connectivity Associated With Pornography Consumption," menemukan bahwa konsumsi pornografi yang sering berkaitan dengan berkurangnya volume striatum, bagian dari sistem penghargaan otak.
- Para peneliti menemukan bahwa aktivitas di sistem penghargaan otak lebih rendah pada pengguna pornografi yang sering dan berkelanjutan saat mereka melihat gambar pornografi. Hal ini menunjukkan bahwa semakin sering seseorang mengonsumsi pornografi, semakin besar kemungkinan mereka membutuhkan rangsangan yang lebih kuat untuk mencapai tingkat kepuasan yang sama[2].
Kedua jurnal tersebut menunjukkan
adanya hubungan antara konsumsi pornografi yang berlebihan dengan perubahan
struktur dan fungsi otak, yang dapat mempengaruhi kemampuan kognitif dan fungsi
sistem penghargaan.
Maka betapa mengerikan jika kasus kekerasan
seksual terjadi pada anak, pada usia berapa dia terpapar pornografi melalui internet? Lalu jika keanduan
pornografi terjadi pada orang dewasa yang menjadi pemimpin, cakapkah otaknya
men-drive dirinya dalam membuat keputusan yang strategis bagi orang
banyak?
[1] NCOSE, https://endsexualexploitation.org/articles/research-spotlight/cognitive-processes-related-to-problematic-pornography-use/
[2] Max
Planck Neuroscience, https://maxplanckneuroscience.org/viewers-of-pornography-have-a-smaller-reward-system/
0 komentar